Tidak berapa lamanya sesudah masuk kedalam rumah kurungan, maka langsung saja bertukar pakaian dengan pakaian orang kurungan yang berwarna biru, rambut di potong hampir menjadi botak licin sedangkan harta atau apa saja yang di bawa ke penjara Sukamiskin Bandung semuanya di ambil.
Ketika memasuki hari libur seperti hari raya maka libur pulalah untuk bekerja. Sehari setelahnya maka harus segera berbaris, disanalah pesakitan tiba untuk memegang mesin garis dan mesin potong yang besar untuk memotong berpuluh rim kertas. Mengemas barang, memuat dan membongkarnya.
Bila malam tiba dan pekerjaan selesai untuk hari itu maka di beri kesempatan untuk membersihkan diri seperti mandi yang di beri waktu 6 menit saja. Dengan waktu 6 menit itu di gunakan untuk membersihkan tubuh dari minyak mesin yang melekat pada tangan, kaki dan pipi.
Setelah ini bila tiba waktu makan maka hanya makan nasi merah dan sambal saja. Itupun harus cukup untuk para pesakitan di sana. Dilanjutkan kembali ke ruang tahanan yang berukuran 1,5x2,5 m hanya untuk melepaskan lelah dari pekerjaan sehari-hari dimana esok akan bekerja keras lagi.
Kadang dalam ruangan itu untuk sekedar membaca buku, bermain catur, membaca kitab keagamaan di tengah hiruk pikuknya orang-orang seruangan yang sedang ngobrol. Sebelumnya untuk membaca buku ini harus melalui proses yang panjang untuk perizinannya.
Dalam penjara ini membuat pesakitan dalam kurungan dan tak lebih dari seorang hukuman yang mesti menyembah dan harus melupakan kemanusiaan. Segalanya disini di kerjakan dengan komando seperti makan, pulang balik ketempat bekerja, mandi bahkan untuk menghirup udara sedangkan keinginan untuk merdeka harus di hilangkan. Orang hukuman tiada lain seperti binatang ternak yang di kurung.
Komentar