Ketika suara rakyat dipasung dan ketidakadilan menjadi rutinitas harian, mahasiswa sering kali berdiri di garis depan sebagai penjaga nurani bangsa. Di era rezim yang otoriter, unjuk rasa mahasiswa menjadi lebih dari sekadar aksi protes; ia adalah simbol perlawanan, suara yang berani menghadapi tirani, dan harapan untuk perubahan yang lebih baik.
Unjuk rasa sering kali menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menemukan kekuatan kolektif. Dan solidaritas adalah elemen utama yang memberi mereka keberanian untuk melawan, meskipun berhadapan dengan kekuatan besar.
Sinopsis Singkat (Bukan) Pasaran Terakhir
Novel ini berpusat pada seorang Kario yang hidupnya diliputi rutinitas dan absurditas. Di sini Narator mengajak para pembacanya untuk menyusuri kehidupannya yang penuh dengan observasi dan dialog batin yang sering kali melawan logika konvensional. Latar cerita, yang terinspirasi oleh suasana kehidupan pasar sehari-hari di Jawa Tengah yang menjadi panggung bagi konflik-konflik internal yang lebih besar.
Dalam hal ini tanpa mengurangi rasa hormat pada penulis atas karyanya, saya sebagai pembaca ingin berbagi keluhan sedikit tentang buku anyar ini.
1. Alur cerita yang lambat
Bagi pembaca yang lebih menyukai alur cepat atau konflik yang jelas, (Bukan) Pasaran Terakhir bisa terasa lamban dan melelahkan. Beberapa bagian terasa terlalu banyak berisi refleksi tanpa aksi, sehingga memerlukan kesabaran ekstra untuk membacanya. (hal 17-26).
2. Gaya yang Terlalu Eksperimen
Eksperimen gaya Yon Bayu mungkin tidak cocok untuk semua orang. Pembaca yang lebih menyukai narasi konvensional bisa merasa tersesat di tengah humor absurd dan struktur cerita yang biasa-biasa saja.
3. Minimnya Konflik Eksternal
Konflik dalam novel ini lebih bersifat internal dan filosofis alias kurang tendangannya sehingga pembaca yang mencari ketegangan atau pure drama sepertinya mungkin merasa kurang terpenuhi.
![]() |
| Buku (Bukan) Pasaran Terakhir dokpri emma |
Design Cover
Desain Cover yang Mengecewakan, sebagai bentuk elemen pertama yang dilihat calon pembaca bikin malas untuk membeli, Cover (Bukan) Pasaran Terakhir sangat tidak menarik. Desainnya terlalu sederhana dan biasa saja,. padahal, dengan tema yang mencoba mengeksplorasi absurditas, ada banyak potensi untuk menciptakan visual yang lebih provokatif atau simbolis.
Cover buku sering kali menjadi hal pertama yang menarik perhatian pembaca, namun dalam kasus (Bukan) Pasaran Terakhir, tampaknya desainnya kurang mampu menggugah minat pembaca dan mudah untuk merefleksikan kedalaman isi novel (oh..tentang pasar). Kenapa begitu? Hal ini semua disebabkan karena:
1. Terlalu Sederhana
Cover yang digunakan terlihat minimalis, tetapi sayangnya malah terasa datar dan kurang menggugah mata. Tidak ada elemen visual yang mencolok atau mengundang rasa penasaran.
2. Terlalu Menggambarkan Tema Cerita
Novel ini penuh dengan refleksi filosofis dan absurdisme, tetapi desain cover tidak mencerminkan hal tersebut. Sebuah cover yang lebih abstrak atau simbolis mungkin lebih sesuai untuk menangkap esensi, seperti novel Yon Bayu yang telah saya baca sebelumnya yaitu Kelir (gambar wayang) dan Prasa (gambar sepatu dan mawar) yang bikin penasaran banget untuk dibaca.
Saya itu orang yang sangat excited bila membaca buku baru, alias kalau buku itu bisa dibaca sekali duduk kenapa gak, bahkan tebalnya buku seperti karya NH Dini, STA, JK Rowling juga Dan Brown (The Davinci code, Angels and Demonds dan sebagainya) yang tebalnya lebih dari 600 halaman, saya senang menuntaskannya (bisa dalam 2 hari). Berbeda dengan buku ini (Bukan) Pasaran Terakhir yang versi saya bisa di Istilahkan reading slump atau sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ketika seorang pembaca merasa kurang termotivasi dan kurang bersemangat untuk mulai membaca atau bahkan untuk melanjutkan bacaan.
Selain itu, dalam novel (Bukan) Pasaran Terakhir, eksperimennya justru terkesan berlebihan hingga merusak pengalaman membaca (hal 32). Penulis novel ini seolah-olah tenggelam dalam ambisi untuk menjadi "berbeda," meski hasil akhirnya terasa dangkal (hal: 141). (maaf🙏)
Narasi yang Tumpul dalam novel ini terasa seperti kumpulan fragmen tanpa arah. Alih-alih menghadirkan cerita yang mengalir, Yon Bayu tampaknya lebih asyik bermain dengan refleksi batin dan humor gelap yang sering kali kurang pas. Akibatnya, saya sebagai pembaca dipaksa menyusuri jalan cerita yang lebih menyerupai monolog berputar-putar tanpa tujuan.
Alur yang disebut-sebut non-linear malah terasa seperti tidak memiliki struktur sama sekali. Mungkin penulis ingin mendorong pembaca untuk "merenung," tetapi pada akhirnya novel ini lebih seperti catatan pribadi yang berantakan daripada sebuah karya sastra yang diharapkan.
Pembaca dibuat bingung—bukan karena cerita yang kompleks, tetapi karena pilihan narasi yang terasa kesana-kemari. Tidak ada momen emosional yang benar-benar menonjol atau membuat pembaca terhubung dengan karakter. Semua terasa datar.
Karakter dalam novel ini "Kario" terasa seperti tanpa jiwa , Yon Bayu tampaknya sengaja membuat karakter tokoh agar terasa universal, tetapi hasilnya malah membosankan. Alih-alih mengundang empati atau rasa ingin tahu, Kario ini lebih mirip seseorang yang terus-menerus mengeluh hingga akhir bacaan.
Karakter lainnya Riri dan Ratri, meskipun memiliki potensi, tidak dikembangkan dengan baik. Hubungan antar karakter terasa hambar, dan dialog yang seharusnya menjadi momen penting malah jatuh sebagai monolog penuh metafora yang bertele-tele.
Kesimpulan
Bukan Pasaran Terakhir mungkin akan menarik bagi segelintir pembaca yang menyukai gaya eksperimental Yon Bayu tanpa syarat. Namun, bagi pembaca umum, novel ini terasa terlalu pretensius dan kurang memiliki daya tarik universal. Eksperimen yang dimaksudkan untuk menantang norma justru berakhir dengan bacaan yang melelahkan dan tidak meninggalkan kesan mendalam.
Judul Buku: (Bukan) Pasaran Terakhir
Penulis: Yon Bayu Wahyono
ukuran buku: 14cm x 21 cm
Ketebalan buku: 166 halaman
Cetakan pertama, Oktober 2024
Penerbit : Teras Budaya Jakarta

Komentar